Selasa, 13 Agustus 2013

SEJARAH AWAL AGAMA YAHUDI SELAYANG PANDANG

SEJARAH AWAL AGAMA YAHUDI  SELAYANG PANDANG

Israel telah ada dalam pikiran Tuhan sebelum penciptaan alam (Gen. R. 1.4) yang mana diciptakannya langit dan bumi hanyalah karena ke­unggulan Israel. Sebagaimana alam tak mungkin wujud tanpa angin, hal itu pun tak mungkin wujud tanpa Israel.
1
 
Cara terbaik mengkaji Kitab suci adalah melakukannya secara kronologis, mulai dengan sejarah keagamaan dan politik agama Yahudi. Catatan­catatan tradisional Yahudi mungkin bisa membuat seseorang terperangah dan .shock, karena tradisi mereka ternyata penuh dengan praktik-praktik penyem­hahan berhala, paganisme, dan seringnya pengingkaran terhadap keesaan Tuhan. Tujuan utama saya di sini ingin menunjukkan bahwa para pemeluk awal agama Yahudi tidak suka mengikuti Nabi Musa atau risalahnya. Banyak cerita-cerita tradisional yang menggambarkan pendapat-pendapat orang-orang Yahudi awal yang tak senang terhadap nabi-nabi mereka dan mengungkapkan konsepsi­konsepsi yang memprihatinkan tentang Tuhan, dan setelah memaparkan beberapa di antaranya, saya akan beranjak ke sejarah raja-raja Israel dan Yehuda dan kehidupan mereka yang penuh dengan penyembahan berhala. Hal ini akan memberikan satu sketsa kepada pembaca tentang suasana tempat Perjanjian lama (PL) telah menjadi korban selama berabad-abad dan pada akhirnya telah mengurangi harapan kemungkinan terpelihara secara meyakinkan.2
 
1. Sejarah Yahudi Sebelum Berdirinya Kerajaan
 
Lahirnya Ishmael dan Isaac, anak-anak Abram (Abraham)
 
1.      Sarai, Istri Abram,3 belum juga mendapat anak. Tetapi ia mempunyai seorang hamba dari Mesir, seorang gadis bernama Hagar.
2.      Sarai berkata kepada Abram, "Ketahuilah sekarang, Tuhan tidak me­mungkinkan saya melahirkan anak. Sebab itu, sebaiknya engkau tidur dengan hamba saya ini. Barangkali dia dapat melahirkan anak untuk saya." Abraham mau mendengar apa yang dikatakan oleh Sarai.
3.     Dan Sarai, istri Abram, menghadiahkan Hagar (pembantu dari Mesir) pada suaminya, setelah ia menetap sepuluh tahun di bumi Kanaan, untuk dijadikan sebagai istri selir.
15 Lalu Hagar melahirkan anak laki-laki, dan Abram ayahnya, menamakan anak yang dilahirkan Hagar dengan sebutan Ishmael.4
15 Kemudian Tuhan berkata kepada Abraham, "Engkau jangan lagi memanggil istrimu Sarai; mulai sekarang namanya Sarah.
16 Aku akan memberkatinya dan ia akan melahirkan seorang anak laki­laki yang akan Kuberikan kepadamu. Ya, Aku akan memberkati Sarah. dan ia akan menjadi ibu leluhur bangsa-bangsa. Di antara keturunannya akan ada raja-raja."
17 Lalu sujudlah Abraham, tetapi ia tertawa ketika berpikir, "Mana mungkin seorang laki-laki yang sudah berumur seratus tahun mendapat anak? Mana mungkin Sara melahirkan pada usia sembilan puluh tahun?"
18 Lalu berkatalah ia kepada Tuhan, "Sebaiknya Ismael saja yang menjadi ahli waris saya."
19 Tetapi Tuhan berkata, Tidak. Sarah istrimu akan melahirkan anak laki­laki dan engkau akan menamakannya Isaac. Aku akan setia kepada perjanjian-Ku dengan anak itu dan dengan keturunannya selama-lamanya.5
 
Isaac tiba-tiba menjadi satu-satunya anak yang sah bagi Abraham

Josephus, seorang sejarawan Yahudi abad pertama menulis tentang, "Isaac, satu-satunya anak laki-laki sah Abraham," dan setelah itu ia segera menjelaskan, "Sekarang Abraham sangat mencintai Isaac, karena menjadi satu­satunya anaknya yang sah, dan diberikan kepadanya pada batas usia tua, berkat karunia Tuhan."6 Apakah Josephus menurunkan derajat Ishmael pada status anak tak sah, pada hal Kitab Kejadian 16:3 menegaskan bahwa Sarah telah memberikan Hagar kepada suaminya "untuk menjadi istrinya"? Dia tetap me­negaskan Isaac sebagai satu-satunya anak yang sah, meskipun baru saja me­maparkan tentang Ismail secara panjang lebar pada tiga halaman sebelumnya.
 
Dari anak-anak Isaac dan seterusnya, PL (Perjanjian Lama) memaparkan kebohongan yang menjadi jadi yang dilakukan oleh para nenek-moyang bangsa yang dipilih oleh Tuhan (God's chosen people) sendiri, yang mana dengan mereka itu Dia secara pribadi membuat sebuah perjanjian. Kisah-kisah kebohongan pada semua tahapan ini, yang terpelihara di dalam Kitab-kitab suci, hanyalah akan mengikis kepercayaan pembaca terhadap tokoh-tokoh Biblikal dan terhadap keseriusan dan kesetiaan mereka mengikuti perintah­perintah Tuhan.
 
Yakub menipu ayahnya

Setelah bertahun-tahun tanpa anak, Rebekah (istri Isaac) melahirkan dua anak kembar laki-laki. Esau adalah yang lahir dahulu dan dikasihi oleh ayahnya, sementara Rebekah selalu memihak Yakub. Pada suatu hari Esau kembali dari berburu dalam keadaan lemah-lunglai karena kelaparan, dan meminta Yakub sedikit sup kacang merah, tapi ia menolak memberikannya, kecuali setelah Esau menyerahkan hak-haknya sebagai anak yang lahir pertama kepada Yakub.7 Pada suatu kesempatan berikutnya, Rebekah dan Yakub bersekongkol menipu Isaac melalui tipu muslihat yang tersusun rapi dengan menggunakan bulu palsu: sehingga secara keliru Isaac telah memberikan berkat kepada Yakub (yang sebetulnya adalah haknya Esau) seraya berucap, "Semoga bangsa­bangsa menjadi hambamu, dan suku-suku bangsa takluk kepadamu. Semoga engkau menguasai semua sanak saudaramu."8

Ayah mertua menipu menantu
 
Karena takut acaman balas dendam Esau-akibat berkatnya yang tercuri­Rebekah mengungsikan Yakub ke rumah saudara laki-lakinya, Laban, di Haran, barangkali dia mau mengawini anak perempuan Laban. Oleh karena itu, dia menempuh perjalanan menuju Haran dan, karena terpikat dengan anak perempuan ini, si cantik Rachel,9 dia tergila-gila ingin segera mengawininya tapi dia pertama-tama diminta untuk bekerja pada ayahnya selama tujuh tahun sebelum impian perkawinannya tercapai. Tujuh tahun kemudian dia benar­benar kawin, tapi setelah menghabiskan malam perkawinan dengan pengantinnya dalam keadaan yang gelap, dia begitu shock ketika mendapatkan pagi harinya bahwa ayah mertuanya telah mengganti Rachel dengan saudara perempuannya, Leah, yang tak begitu menarik.
 
Perkawinannya dengan Rachel kemudian dilangsungkan seminggu kemudian, akan tetapi hanya diperbolehkan setelah dia menjalani bekerja kepada Laban selama tujuh tahun lagi. Ketika Yakub akhirnya meninggalkan Haran, dia disertai dua orang istri, dua orang gundik, sebelas orang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan.10 Ketika meninggalkan rumah Laban, Rachel mencuri tuhan-tuhan sesembahan keluarga ayahnya, sehingga Laban berusaha untuk menangkapnya dan memeriksa kemah-kemah secara kasar; tapi Rachel dengan sigap telah menyembunyikan tuhan-tuhan tersebut di dalam kantong pelana yang ia duduki atasnya, dan usaha ini pun sia-sia.11 Dengan demikian, garis keturunan yang istimewa ini, meskipun senantiasa berada dalam Perjanjian Tuhan, ternyata begitu luar biasa mengelu-elukan tuhan-tuhan sesembahan keluarga mereka.
 
Yakub bergulat dengan Tuhan
 
24 Tetapi la tinggal seorang diri. Maka datanglah seorang laki-laki bergumul dengan Yakub sampai menjelang pagi.
25 Ketika orang itu merasa bahwa la tidak akan menang dalam pergumulan itu, dipukulnya Yakub pada pinggulnya, sampai sendi pinggul itu terkilir.
26 Lalu kata orang itu, "Lepaskan aku; sebentar lagi matahari terbit." jawab Yakub, "saya tidak akan melepaskan Tuan, kecuali jika Tuan memberkati saya."
27 "Siapa namamu?" tanya orang itu. "Yakub," jawabnya.
28 Orang itu berkata, "Namamu bukan Yakub lagi. Engkau telah bergumul dengan Tuhan dan dengan manusia, dan engkau menang; karena itu namamu menjadi Israel. "12
Bagi seseorang dari luar tradisi Judeo-Kristen, ide tentang seorang manusia secara fisik menyerang Tuhan sampai hari terang benderang (dan menang) adalah tidak bisa dibayangkan, jika tidak sesuatu yang profan.

Keluarga Yakub

Yakub mempunyai dua orang istri,
a. Leah, yang melahirkan  1. Ruben, 2. Simeon, 3. Levi, 4. Yehuda, 5. Issachar, 6. Zebulun
b. Rachel, yang melahirkan 1. Yusuf, dan 2. Benjamin.
Dia juga punya dua orang gundik,
a. Bilhah, hamba Rachel, yang melahirkan  1. Dan, dan 2. Naphtali.
b. Zilpah, hamba Leah, yang melahirkan 1. Gad, dan 2. Asher
 
Dengan demikian "Yakub mempunyai dua belas orang anak laki-laki."13 Masa paceklik sangat parah yang melanda Yakub ketika usia senja merupakan pendorong baginya untuk hijrah ke Mesir;14 di mana anak laki-lakinya, Yusuf, pada waktu itu telah menduduki jabatan Gubernur Mesir, dan mengundang orang tuanya dan saudara-saudaranya untuk bergabung dengannya karena tanah Mesir masih cukup tersedia bahan makanan. 15 "Keturunan Yakub yang pergi ke Mesir semuanya berjumlah enam puluh enam orang, tidak termasuk menantu-menantunya. Anak-anak Yusuf yang lahir di Mesir ada dua orang, sehingga keluarga Yakub yang tiba di Mesir seluruhnya berjumlah tujuh puluh orang."16 Ini termasuk semua anak-anaknya dan cucu-cucunya dari kedua orang istrinya dan kedua orang gundiknya.
 
Musa
 
Kakek Musa, Kohath, telah tiba di Mesir dari tanah Kanaan bersama­sama dengan kakeknya, Yakub,17 dengan begitu satu-satunya orang dalam garis keturunan ini yang lahir di Mesir adalah ayah Musa, Amram.18 Meskipun dilahirkan di sana Musa meninggalkannya lebih dari empat puluh tahun sebelum dia meninggal dunia, maka masa anak-cucu Yakub tinggal di Mesir hanya selama 215 tahun.19 Hidup sebagai orang-orang merdeka, di sana keluarga Yakub menikmati kesejahteraan yang luar biasa dan jumlah mereka pun bertambah begitu cepat, tapi hat ini membangkitkan kecemburuan yang sangat besar di kalangan masyarakat Mesir dan akhirnya menyulut mereka untuk memperbudak bangsa Israel; dalam masa delapan puluh tahun sebelum peristiwa eksodus (keluar dari Mesir), seluruh anak bayi laki-laki mereka dibunuh atas perintah Fir'aun.20
 
Meskipun terselamatkan oleh kasih sayang Tuhan pada masa bayinya, Musa terpaksa melarikan diri pada usia dewasa karena membunuh seorang Mesir, dan karena raja dan militer iri atas kesuksesannya dalam kampanye Ethiopia. Dia Pergi ke Madyan kemudian berkeluarga dan menetap di sana sampai saat diutus oleh Tuhan untuk menjadi rasul-Nya, untuk kembali ke tempat kelahirannya dan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan. 21
 
Tuhan sarankan bangsa Israel mencuri perhiasan perhiasan tetangga mereka
 
Setelah gagal total membujuk-rayu Fir'aun agar melepas bangsa Israel, Musa clan Harun kemudian menyaksikan serentetan bencana clan wabah yang memorak-porandakan Mesir. "Tuhan berkata kepada Musa, "Aku akan menjatuhkan satu bencana lagi atas raja Mesir dan rakyatnya. Sesudah itu, ia akan melepas kamu pergi. Bahkan kamu semua akan diusir dari sini. Sebab ittt bicaralah dengan bangsa Israel; suruhlah mereka minta perhiasan emas dan perak dari tetangga mereka."22
 
Dalam hal ini bangsa Israel menaati Musa, mencari barang-barang emas, perak, dan barang-barang lain yang berharga dari para tetangga Mesir mereka. Tuhan melunakkan hati bangsa Mesir hingga memberikan apa saja yang diinginkan bangsa Israel. "Dengan cara ini mereka membawa kabur kekayaan orang-orang Mesir sewaktu mereka meninggalkan Mesir."23 Sepenggal ayat ini, yang mana Tuhan melegitimasi pengambilan emas dan perak milik orang Mesir oleh bangsa Israel, mengimplikasikan bahwa semua barang-barang berharga adalah harta milik yang sah bagi bangsa-Nya yang terpilih (Israel) saja. Pada kenyataannya, Kitab Ulangan (Deuteronomy) 33:2, mengindikasikan bahwa Yang Mahabesar telah menawarkan Taurat kepada bangsa-bangsa non-Yahudi (Gentile nations) juga, tapi karena mereka menampik, maka Dia menarik kembali perlindungan hukum-Nya dari mereka, dan mentransfer hak­hak kekayaan mereka kepada Israel, yang melaksanakan Hukum-Nya. Sepenggal ayat dalam Kitab Habakuk dianggap menguatkan klaim ini.24
 
Bilangan warga Israel pada waktu Eksodus diperkirakan 2,000,000 (dua juta)
 
Setahun setelah Eksodus (keluar dari Mesir), Musa clan Harun meng­hitung jumlah orang laki-laki yang berusia 20 tahun ke atas dan jumlah ke­kuatan perang. Jumlah mereka didapati 603,550 warga Israel.25 Suku Levi tidak termasuk dalam bilangan angka ini, begitu juga kaum perempuan segala usia, kaum laki-laki tua, dan kalangan anak muda di bawah usia 20 tahun. Dengan memasukkan kelompok-kelompok ini ke dalam penghitungan, kita dapat menyimpulkan bahwa-menurut PL-jumlah bilangan orang yang ikut dalam Eksodus barangkali melebihi dua juta orang Yahudi. Saya ingin menyerahkannya kepada pembaca yang punya daya imajinasi kuat untuk menduga bagaimana sebuah suku yang terdiri dari tujuh puluh orang, baru tiba di Mesir, bisa berlipat ganda menjadi dua juta jiwa hanya dalam masa 215 tahun, terutama ketika bayi-bayi laki-laki mereka dibunuh secara sistematis selama delapan dekade sebelumnya. Seperti inilah keadaan PL yang ada di tangan kita sekarang.
 
Lempengan-lempengan batu dan anak sapi emas
 
Musa naik ke gunung dan berdoa di sana selama empat puluh hari. "Pada akhir masa itu Tuhan memberinya dua lembaran perjanjian, lembaran batu, yang ditulis dengan jari Tuhan."26
 
  1. Waktu bangsa Israel melihat bahwa Musa lama sekali tidak turun dari gunung, tetapi masih di sana juga, mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya, "Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Musa, orang yang telah membawa kita keluar dari Mesir; jadi buatlah untuk ilah (gods) yang akan memimpin kami."
  2. Lalu Harun berkata kepada mereka, "Lepaskanlah anting-anting emas yang dipakai istri-istri dan anak-anakmu, dan bawalah kepadaku."
  3. Harun mengambil anting-anting itu, lalu dileburnya dan dituangkannya ke dalam sebuah cetakan dan dibuatnya sebuah patung sapi. Bangsa itu berkata, "Hai Israel, inilah ilah (gods) kita yang mengantar kita keluar dari Mesir!"
  4. Besoknya pagi-pagi sekali, orang-orang Israel membawa beberapa ekor ternak untuk kurban bakaran, dan beberapa ekor lagi untuk kurban perdamaian. Mereka duduk makan clan minum, lalu bangkit untuk bersenang-senang.27
Inilah dongeng klasik tentang ketidaksyukuran bangsa Israel kepada Tuhan, yang baru saja mengakhiri keadaan keterpurukan mereka dan membelah laut untuk pelarian mereka. Pada saat ingin menghukum mereka atas ketidak­patuhan mereka, akhirnya Dia "bertobat dan tidak jadi melaksanakan ancaman­Nya untuk menimpa bangsa itu dengan malapetaka."28 Ide tentang Tuhan bertobat (repenting), seperti layaknya orang berdosa, juga merupakan gambaran lain dari PL yang sangat tak terbayangkan oleh akal sehat.
Pengembaraan dalam hutan belantara

 
Dalam keasingan orang-orang Yahudi sangat sering mencoba melempari Musa dengan batu. Pada saat yang sama kecemburuan Harun dan Mariam tentang saudara laki-laki mereka mulai memuncak, menyebabkan mereka angkat suara menentangnya.

Tuhan marah atas serangan ini, dan Mariam diserang penyakit lepra Musa kemudian berdoa agar dia (Mariam) diampuni, dan dia sembull setelah tujuh hari pengasingan di padang pasir di luar perkemahan. Cukup aneh Harun tidak dihukum -barangkali karena peran dia sebagai pendeta.29

Imam Korah juga menghasut suatu pemberontakan dan angkat suara "menentang Musa dan Harun, bersama-sama dengan Datan, Abiram dan dull ratus lima puluh orang pemimpin."30

Menjelang akhir pengembaraan Musa mengumpulkan kerumunan dekat perbatasan Yordania dan menyampaikan pernyataan yang terperinci, memberikan mereka seperangkat undang-undang dan konstitusi pemerintahan.31
 
Musa memerintahkan kepada para pendeta dan pemimpin ini: Setiap tahun bangsa Israel harus datang bersama-sama untuk merayakan pesta Pondok Daun di tempat Tuhan pilihan untuk disembah. Engkau harus membacakan undang-undang dan ajaran-ajaran ini kepada orang-orang diperayaan pada setiap tahun ketujuh, yaitu tahun penghapusan utang. Setiap orang harus hadir-laki-laki, perempuan, anak-anak, dan bahkan orang-orang asing yang tinggal di kota-kotamu. Dan setiap generasi baru akan mendengarkan dan belajar untuk menyembah Tuhan mereka dengan takut dan menggigil dan untuk melakukan apa-apa yang disebut dalam hukum Tuhan dengan tepat.32
 
Tidak terdapat bukti bahwa praktik pembacaan undang-undang pada setiap tahun ketujuh ini benar-benar terjadi, sebagian dikarenakan kacaunya situasi politik yang segera melanda bangsa Israel.33 Juga, sebagaimana yang akan kita lihat dalam bab berikut, semua kitab-kitab yang dinisbatkan kepada Musa sejatinya ditulis beratus-ratus tahun kemudian.
 
Hanya sementara waktu saja dan setelah itu Musa wafat, begitu juga sebagian besar generasi yang kabur dari Mesir menyeberang laut empat dekade sebelumnya. Dengan Yosua mewarisi tampuk kepemimpinan, dia meneruskan perjalanan menuju tanah Kanaan dan memimpin mereka menyeberang Sungai Yordania untuk menguasai Jericho dan kota-kota lain. 34
 
Zaman para Hakim-Ark jatuh ke tangan musuh (±1200-1020 S.M.)
 
Para sesepuh Israel mendekritkan bahwa Ark35 harus dipindahkan dari tempel Shiloh, untuk mendukung pasukan tentara Israel dalam penyergapannya ke Palestina. Tetapi Ark sudah jatuh ke tangan musuh, dan segera disusul dengan sebagian besar kota-kota Israel, termasuk kuil Shiloh yang juga porak­poranda.36
 

 
1. Rev. Dr. A. Cohcn, Everyman's Talmud, London, hlm. 61, dinukil oleh S.A. Zia, A History of Jewish C'rimes, Union Book Stall, Karachi, 1969, hlm. 53.
2. Pembaca harus cermat bahwa sebagian besar kejadian-kejadian sejarah yang disinggung dalam fasal ini mcmpunyai pengaruh langsung pada PL, atau pun mcnunjukkan bagaimana praktik­praktik keagamaan dan moral yang meluas tak mcndukung kelangsungan wujudnya PL secara sempurna dan utuh. Tujuan saya tidak ingin mcmberikan suatu sejarah bangsa Israel yang komprehensif; pembaca yang berminat bisa dengan mudah mendapatkan rujukan-rujukan yang dilengkapi dengan rincian-rincian tentang perjalana-perjalanan militer mereka dan loyalitas politis mereka, dll.
3. Demikianlah nama ini muncul di dalam Kitab Kejadian, dengan 'Abram' berubah menjadi 'Abraham' pada percakapannya dengan Tuhan.
4. Kejadian 16.
5. Kejadian 17. Diskusi mengenai perubahan dan penyisipan dan penamhahan yang terjadi dalam Kejadian 17, rujuk buku ini hlm . '? Semua kutipan biblikal di sini berdasarkan versi King James, kecuali disebutkan lain.
6. Joseephus, Antiq , Bab I , Fasal 13, N0. 1 (222).
7. Kejadian 25 : 29-34
8. Kejadian 27 : I-29.
9. Kejadian 2 9: I-7
10.  Kejadian 31.
11. Kejadian 31:19-35.
12. Kejadian 32:24-28 Dalam bahasa Ibrani salah satu urh 'Israel' adalah "seseorang yang bergulat dengan Tuhan " ( Lihat ratatan kaki untuk Kejadian 32 23-26)
13. Kejadian 35:23-26.
14. Kejadian 41:53-57.
15. Kejadian 45.
16. CI:V, Kejadian 46:26-27.
17. Kejadian 46:8-I5.
18. Rujuk Exodus (Keluaran) 6:16-20.
19 Untuk lehih rincinya lihat Rahmatullah al-Hindi, Izharal-Haq, i:2G6-68, di mana pengarang menukil beberapa sumber Yahudi Dalam sumber P, 215 tahun adalah rentang masa antara waktu perlulunnn Ibrahim ke lanah Kanaan dan hijrahnya Yakub ke Mesir I lihat Kejadian 12:4b, 21:5, 25:26, •7 41, dan jumlah seluruh musuh di Kanaan dan Mesir adalah 4111 tahun (sehagian manuskrip menyebut 435 tahun) [lihat I.XX, Keluaran 12 401 Im menyisakan rentang waklu 215 tahun untuk masa keberadaan mereka di Mesir
20. Al-Hindi, Izhar al-Haq, i:64.
21. Keluaran 1-4.
22. Keluaran 11: 1-2.
23 CEV, Keluaran 12:36.
24 "Gentile", The Jewish Encyclopedia, Funk and Wagnalls Company. New York/London
1901-1912, v:620 Kontraskan hal ini dengan perlakuan Nabi Muhammad terhadap warga Quraisy itu sendiri yang memplot pembunuhannya, dan permintaannya kepada 'Ali untuk tetap tinggal menunggu (di Mekkah) sementara waktu dan mengembalikan semua barang-barang berharga yang mereka percayakan kepadanya. Lihat buku ini hlm ....'?
25 Bilangan I: 20-46.
26 Joan Comay dan Ronald Brownrigg, Who is Who in the Bible : The Old Testament and the Apocrypha and the New Testament, Two Volumes in One, Bonanza Books, New York, 1990, hlm 283 menukil Exodus 31 : 18.  Selanjutnya ditulis Who's Who.
27 Keluaran 32: 1-6.
28 Keluaran 32: 14.
29 Who's Who, i: 285.
30 Bilangan 16 1
31 Josephus, Anhy, Bab 4, pasal 8 Pidato berakhir di (Bob yang sama) No 43 (301)
32. CEV, Ulangan 31:10-13, hlm. 237.
33. Lihat buku ini hlm. 254-9.
34. James Hastings, D.D., Dictionary of the Bible (Second Edition), T.&T. Clark, PAmhurgn, 1901, hlm. 433. selanjutnya disebut Dictionary of the Bible.
35. Menurut Kitab Ulangan 10 1-5, Ark ini memuat pasangan kedua lembaran batu yang diatasnya Tuhan telah mengukir Sepuluh Perintah (the Ten Commandments).... "Konon Ark yang asli adalah sebuah kotak/peti yang rnemuat batu-batu suci yang dianggap bahwa Tuhan berada didalamnya " ( Dictionary of the Bible, hlm. 53)
36. Dictionary of the Bible, hlm 434

Minggu, 11 Agustus 2013

Ringkasan Kitab Al Umm [ Jilid 1 & 2]
Ditulis Oleh: Imam Asy Syafii - rahimahulloh-   

Sesungguhnya Allah Ta'ala dengan segala hikmah-Nya telah memutuskan untuk mengutus para rasul kepada manusia, agar para Rasul ini menjadi suri tauladan bagi kaumnya masing-masing. Sehingga manusia dapat mengikuti petunjuk para rasul, mereka beramal seperti amal para rasul. Untuk itu, Allah telah menurunkan kitab kepada para Rosul agar diajarkan kepada manusia. Maka jadilah manusia beramal berdasarkan amalan para rasul 'alaihimus salam.
Akan tetapi sebagian orang telah merubah risalah-risalah Allah, dimana mereka diperintahkan untuk menjaga risalah tersebut. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman
"Maka datanglah  sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan." (QS. Maryam: 69)
      Ketika Allah -dengan hikmah-Nya hendak menutup risalah dan mengakhiri nubuwwat/wahyu-Nya, Dia mengutus seorang rasul terakhir , kepadanya Dia turunkan kitab yang berisi hukum-hukum syariat Lalu rasul terakhir itu, Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- mengamalkan isi tersebut dan menyampaikannya kepada umat. Sebagian  umatnya mengikuti isi kitab itu.
Dengan hikmah, ilmu, dan kuasa-Nya pula, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menjaga risalah ini, Allah menjadikan nash al-Qur'an tetap terpelihara, dan nash  as-Sunnah terpraktikkan. Maka manusia saat ini mendapati adanya nash (tulisan) dan praktik sekaligus. Dan para ulama-lah yang mentransfer ajaran al-Qur'an, as-Sunnah, dan pemahaman -sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah - kepada orang lain. Para shahabat telah memberikan pemahaman yang baik tentang agama kepada para tabi'in. Manusia mewarisi ilmu dari orang besar yang disampaikan melalui orang besar pula, dari satu generasi ke generasi berikutnya, sedangkan para ulama berjasa karena mereka berusaha agar ilmu mudah untuk dipahami. Dengan itu, maka berkembanglah berbagai macam disiplin ilim syari'at seperti ilmu fiqih dan ilmu ushul fiqih. Dan ilmu mereka tentang al-Qur'an, cara penulisan huruf dan makhrajnya pun berkembang, demikian pula halnya dengan hadits, karena keduanya merupakan sumber hukum.Karena itu pula bermunculan-lah ilmu fiqih dan madzhab-madzhab fiqhiyah yang berbeda-beda, dan para ulama' berlomba untuk beristhinbath (mengeksplorasi al-Qur'an dan as-Sunnah untuk menentukan suatu hukum) yang benar berdasarkan nash nash al-Qur'an dan as-Sunnah tersebut, dan membatasi pemahaman mereka dengan apa yang telah diamalkan para salafus shalih.
     Para ulama pula yang mengumpulkan nash-nash atau naskah-naskah perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- , sehingga ia menjadi rujukan bagi para ulama -di samping al-Quran- untuk menentukan dan memahami suatu hukum.
      Karena itu dapat Anda jumpai setiap masa dari masa-masa keemasan Islam, orang yang mengingatkan agar kembali kepada fiqih Islam dan ushulnya, kembali kepada nash-nashnya, sehingga perpustakaan-perpustakaan islam penuh dengan nash-nash fiqih yang terkumpul disana, disamping banyak juga kitab-kitab yang telah disyarah.     
    Salah satu diantaranya adalah Kitab al-Umm, karya Imam asy Syafii -rahimahulloh- , Kitab Induk yang membahas tentang fiqih yang menjadi pegangan madzab Syafi’iyyah.Sebuah kitab tebal yang terdiri dari empat jilid (volume) dan berisi 128  Kitab (masalah) . Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahulloh- berkata: "Jumlah Kitab (masalah) dalam kitab al-Umm lebih dari 140 bab—wallaahu a'lam.
Dimulai dari Kitab "ath-Thahaarah" (masalah bersuci) kemudian Kitab "as-Shalaah" (masalah shalat)." Begitu seterusnya yang beliau susun berdasarkan bab-bab fiqih. Kitabnya ini diringkas oleh Imam Al-Muzani -rahimahulloh- salah satu muridnya, yang kemudian dicetak bersama al-Umm. Sebagian orang ada yang menyangka bahwa kitab ini bukanlah buah pena dari Imam asy-Syafi'i  -rahimahulloh- melainkan karangan Imam al-Buwaithi -rahimahulloh- ( murid Imam Syafii -rahimahulloh- ) yang disusun oleh Ar-Rabi' bin Sulaiman al-Muradi -rahimahulloh- ( juga Murid Imam Syafii -rahimahulloh- ). Kemudian Imam al-Baihaqi  -rahimahulloh- telah membantah sangkaan itu sebagaimana Syaikh Ahmad Syakir -rahimahulloh-  membantahnya saat beliau mantahqiq kitab ar-Risaalah karya Imam asy-Syafi'i -rahimahulloh-  [ Lihat : Mukodimmah Kitab Ar Risalah, Imam Syafii, tahqiq ; Syaikh Ahmad Syakir -rahimahulloh- ]
 Dlam Kitab Al Umm ini akan disajikan pijakan atau landasan Imam Syafii  rahimahulloh- dalam mengeluarkan berbagai macam pendapat, khususnya dalam masalah fiqh Ibadah dan Muamalah, sesuai dengan kadar kemampuan keilmuan beliau -rahimahulloh-
      Sungguh, Para ulama lainnya -rahimakumulloh- telah memujinya dan mengomentarinya dengan komentar dan sambutan yang positif dan baik. Dengan kehadiran Imam ini, Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menyelamatkan ummat manusia dari ketertinggalan dalam bidang fiqih dan hukum yang kala itu dikalahkan oleh rasionalisme. Imam Rabbani ini tampil mengembalikan mereka kepada al-Qur-an dan as-Sunnah, menganjurkan mereka untuk berpegang teguh kepada keduanya, dan mengingatkan mereka akan bahaya menggunakan ra'yu (rasio) semata dalam memahami agama. Imam ini telah memenuhi tulisan dan kitab-kitabnya dengan berbagai masalah berdasarkan al-Quran, as-Sunnah, dan qiyas yang shahih. Dia membantah serta menolak orang yang menentang dan menyalahi al-Quran dan as-Sunnah sekalipun orang itu kedudukannya sangat dekat dengannya karena ia lebih mencintai al-haq daripada siapa pun.
Di antara para ulama yang memuji Imam Rabbani asy-Syafi'i adalah Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahulloh- . la bertutur ketika memujinya: "Pada abad (seratus tahun) pertama adalah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz , sementara pada abad kedua yang menjadi mujaddid (pembaharu) Imam asy-Syafi'i.”
Abu 'Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) juga berkata: "Sungguh, semenjak 40 tahun lalu aku selalu mendo'akan Imam asy-Syafi'i dalam shalatku."
Para ulama yang menulis biografi Imam asy-Syafi'i banyak mengutip pujian para ulama dan para imam kepada beliau. Mereka juga memberikan dukungan terhadap pendapatnya, baik ucapan maupun pandangan beliau, dalam berbagai masalah pelik karena ke-tsiqah-an (kepercayaan) ilmu, kecerdasan, dan motivasi Imam asy-Syafi'i.
 
Ringkasan Kitab Al Umm [ Jilid 1 & 2]
Judul asli : Mukhtashor Kitab Al Umm
Penulis : Imam Muhammad bin Idris Asy Syafii -rahimahulloh-
Peringkas:Husain Abdul hamid Nail
Fisik : Buku ukuran sedang 16x25cm , harcover, 848 hlm
Penerbit : Pustaka Sunnah

Sabtu, 10 Agustus 2013

MUSHAF 'UTHMANI

MUSHAF 'UTHMANI


Selama pemerintahan `Uthman, yang dipilih oleh masyarakat melalui bai'ah () yang amat terkenal sebagai khalifah ketiga, umat Islam sibuk melibatkan diri di medan jihad yang membawa Islam ke utara sampai ke Azerbaijan dan Armenia. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang beragam, sejak awal para pasukan tempur memiliki dialek yang berlainan dan Nabi Muhammad , di luar kemestian, telah mengajar mereka membaca AI-Qur'an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Akan tetapi sebagai akibat adanya perbedaan dalam menyebutkan huruf Al-Qur'an mulai menampakkan kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat.

1. Sikap 'Uthman terhadap Perselisihan Bacaan

Hudhaifa bin al-Yaman dari perbatasan Azerbaijan dan Armenia, yang telah menyatukan kekuatan perang Irak dengan pasukan perang Suriah, pergi menemui 'uthman, setelah melihat perbedaan di kalangan umat Islam di beberapa wilayah dalam membaca Al-Qur'an-Perbedaan yang dapat mengan­cam lahimya perpecahan. "Oh khalifah, dia menasihati, 'Ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi.' "1
 
Adanya perbedaan dalam bacaan Al-Qur'an sebenarnya bukan barang baru sebab 'umar sudah mengantisipasi bahaya perbedaan ini sejak zaman pemerintahannya. Dengan mengutus Ibn Mas'ud ke Irak, setelah 'umar diberitahukan bahwa dia mengajarkan AI-Qur'an dalam dialek Hudhail2 (sebagaimana Ibn Mas'ud mempelajarinya), dan 'umar tampak naik pitam:
 


AI-Qur'an telah diturunkan dalam dialek Quraish ( ), maka ajarkanlah menggunakan dialek Quraish, bukan menggunakan dialek Hudhail.3
 

Dalam masalah ini komentar Ibn Hajar dirasa sangat penting. "Bagi kalangan umat Islam bukan Arab yang ingin membaca Al-Qur'an," katanya. "pilihan bacaan yang paling tepat adalah berdasarkan dialek Quraishi (  ). Sesungguhnya dialek Quraish merupakan pilihan terbaik bagi kalangan Muslim bukan Arab (sebagaimana semua dialek Arab sama susahnya bagi Mereka).4
 
Hudhaifa bin al-Yaman mengingatkan khalifah pada tahun 25 H dan pada tahun itu juga 'Uthman menyelesaikan masalah perbedaan yang ada sampai tuntas. Beliau mengumpulkan umat Islam dan menerangkan masalah perbedaan dalam bacaan AI-Qur'an sekaligus meminta pendapat mereka tentang bacaan dalam beberapa dialek, walaupun beliau sadar bahwa beberapa orang akan menganggap bahwa dialek tertentu lebih unggul sesuai dengan afliasi kesukuan.5 Ketika ditanya pendapatnya sendiri beliau menjawab (sebagaimana diceritakan oleh 'Ali bin Abi Talib),
 


"Saya tahu bahwa kita ingin menyatukan manusia (umat Islam) pada satu Mushaf (dengan satu dialek) oleh sebab itu tidak akan ada perbedaan dan perselisihan" dan kami menyatakan "sebagai usulan yang sangat baik)."6
 

Terdapat dua riwayat tentang bagaimana 'uthman melakukan tugas ini. Sam di antaranya (yang lebih masyhur) beliau membuat naskah mushaf semata-mata berdasarkan kepada Suhuf yang disimpan di bawah penjagaan Hafsa, bekas istri Nabi Muhammad saw. riwayat kedua yang tidak begitu terkenal menyatakan, 'uthman terlebih dahulu memberi wewenang pengum­pulan Mushaf dengan menggunakan sumber mana, sebelum membandingkannya dengan Suhuf yang sudah ada. Kedua-dua versi riwayat sepaham bahwa Suhuf yang ada pada Hafsa memainkan peranan penting dalam pembuatan Mushaf 'Uthmani.
 
2. 'Uthman Menyiapkan Mushaf Langsung dari Suhuf
 
Berdasarkan pada riwayat pertama `Uthman memutuskan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melacak Suhuf dari Hafsa, mempercepat menyusun penulisan, dan memperbanyak naskah. AI-Bara' meriwayatkan,
 
Kemudian 'Uthntan mengirim surat kepada Hafsa yang menyatakan. "Kirimkanlah Suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami kembalikan kepada anda." Hafsa lalu mengirimkannya kepada 'Uthman, yang memerintahkan Zaid bin Thabit, `Abdullah bin az-Zubair, Sa'id bin al-'As, dan 'Abdur­Rahman bin al-Harith bin Hisham agar memperbanyak salinan (duplicate) naskah. Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraishi, "Kalau kalian tidak setuju dengan Zaid bin Thabit perihal apa saja mengenai Al-Qur'an, tulislah dalam dialek Quraish sebagaimana AI­Qur'an telah diturunkan dalam logat mereka." Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah `Uthman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsa...7
 
3. 'Uthman Membuat Naskah Mushaf Tersendiri
 
i. Pelantikan Sebuah Panitia yang Terdiri dari Dua belas Orang untuk Mengawasi Tugas Ini
 
Riwayat kedua adalah pendapat yang agak rumit dan kompleks. Ibn Sirin, (w. 110 H.) meriwayatkan,
 


Ketika 'Uthman memutuskan untuk menyatukan ( ) Al-Qur'an, dia mengumpulkan panitia yang terdiri dari dua belas orang dari kedua-dua suku Quraish dan Ansar. Di antara mereka adalah Ubayy bin Ka'b dan Zaid bin Thabit.8
 

Identitas dua betas orang ini bisa dilacak melalui beberapa sumber. AI­Mu'arrij as-Sadusi menyatakan, "Mushaf yang baru disiapkan diperlihatkan pada (1) Sa'id bin al-'As bin Sa'id bin al-'As untuk dibaca ulang;"9 dia menambahkan (2) Nafi' bin Zubair bin `Amr bin Naufal.10 Yang lain termasuk (3) Zaid bin Thabit, (4) Ubayy bin Ka'b, (5) 'Abdullah bin az-Zubair, (6) 'Abrur-Rahman bin Hisham, dan (7) Kathir bin Aflah.11 Ibn Hajar menyebutkan beberapa nama lain: (8) Anas bin Malik, (9) ' Abdullah bin 'Abbas, dan (10) Malik bin Abi 'Amir.12 Dan al-Baqillani menyebutkan selebihnya (11) 'Abdullah bin `Umar, dan (12) `Abdullah bin 'Amr bin al-'As.13
 
ii. Penyusunan Sebuah Naskah Sendiri (Otonom)
 
'Uthman memercayakan pada dua belas orang di atas tadi untuk mengurusi tugas ini dengan mengumpulkan dan menabulasikan AI-Qur'an, yang ditulis di atas kertas kulit pada zaman Nabi Muhammad   Sejarawan ulung, Ibn `Asakir (w. 571 H.) menyebutkan dalam bukunya History of Damascus (sejarah Damaskus):
 
Dalam ceramahnya 'Uthman mengatakan, "Orang-orang telah berbeda dalam bacaan mereka, dan saya menganjurkan kepada siapa saja yang memiliki ayat-ayat yang dituliskan di hadapan Nabi Muhammad   14 hendaklah diserahkan kepadaku." Maka orang-orang pun menyerahkan ayat-ayatnya, yang ditulis diatas kertas kulit dan tulang serta daun-daun, dan siapa saja yang menyumbang memperbanyak kertas naskah, mula­mula akan ditanya oleh `Uthman, "Apakah kamu belajar ayat-ayat ini (seperti dibacakan) langsung dari Nabi sendiri?" Semua penyumbang menjawab disertai sumpah,15 dan semua bahan yang dikumpulkan telah diberi tanda atau nama satu per satu yang kemudian diserahkan pada Zaid bin Thabit.16
 
Malik bin AN 'Amir mengaitkan,
 
Saya salah seorang dari mereka yang menulis Mushaf (dari sumber yang tertulis), dan jika ada kontroversi mengenai ayat-ayat tertentu mereka akan bertanya, "Dari mana si penulis (di kertas kulit ini)? Bagaimana Nahi Muhammad   mengajar dia tentang ayat ini secara tepat?" Dan mereka akan meringkas tulisan, dan meninggalkan sebagian tempat kosong dan mengirimkannya kepada orang itu disertai pertanyaan untuk mengklarifikasi tulisannya.17
 
Oleh karena itu, naskah Mushaf independen itu muncul secara bertahap, dengan ke dua belas orang itu mengesampingkan semua ayat yang tidak pasti dalam ejaan konvensional, agar supaya 'Uthman dapat melihatnya secara pribadi.18 Abu `Ubaid mencatat beberapa masalah yang ada. Salah satu yang tidak pasti contohnya dalam hal ejaan at-tabut, di mana menggunakan `t' terbuka (maftuhah) ( ) atau tertutup (marbutah) (). Hani al-Barbari, seorang langganan 'Uthman, meriwayatkan:
 


Saya bersama 'Uthman tatkala panitia sedang sibuk membanding­bandingkan Mushaf. Dia mengutus saya agar menemui Ubayy bin Ka'b dengan tulang balm kambing yang bertulisan tiga kata yang berbeda dari tiga stirah yang berbeda-beda (masing-masing dari 2:259, 30:30, dan 86:17), memintanya agar mengecek kembali ejaan-ejaannya. Lalu Ubayy menuliskannya (dengan ejaan yang sudah diubah).
 

 
iii. 'Uthman Mengambil Suhuf dari 'A'ishah Sebagai Perbandingan
 
'Umar bin Shabba, meriwayatkan melalui Sawwar bin Shabib, melaporkan:
 
Saya masuk ke kelompok kecil untuk bertemu dengan Ibn az-Zubair, lalu saya menanyakan kepadanya kenapa 'Uthman memusnahkan semua naskah kuno AI-Qur,an.... Dia menjawab, "Pada zaman pemerintahan 'Umar ada pembual bicara yang telah mendekati Khalifah memberitahukan kepadanya bahwa orang-orang telah berbeda dalam membaca AI-Qur'an. ‘Umar  menyelesaikan masalah ini dengan mengumpulknn semua salinan naskah AI-Qur'an dan menyamakan bacaan mereka, tetapi menderita yang sangat fatal akibat tikaman maut sebelum beliau dapat melakukan upaya lebih lanjut. Pada zaman pemerintahan ‘Uthman orang yang sama datang untuk mengingatkannya masalah yang sama di mana kemudian ‘Uthman memerintahkan untuk membuat Mushaf tersendiri (independent). Lalu dia mengutus saya menemui bekas istri Nabi Muhammad %%% , ‘A'ishah, agar mengambil kertas kulit (suhuf) yang Nabi Muhammad %%% sendiri telah mendiktekan keseluruhan Al-Qur'an. Mushaf yang dikumpulkan secara independent kemudian di dibandingkan dengan Suhuf ini, dan setelah melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang ada, kemudian ia menyuruh agar semua salinan naskah Al-Qur'an dimusnahkan.23
 
Walaupun riwayat ini dianggap lemah menurut ukuran para ahli hadith (traditionist), tapi ada gunanya dalam menyebutkan riwayat ini yang mene­rangkan pengambilan Suhuf yang ada di bawah pengawasan atau penjagaan ‘A'ishah.24 Riwayat di bawah ini bagaimanapun menguatkan riwayat sebelumnya. Ibn Shabba meriwayatkan dari ‘Harun bin ‘Umar, yang mengaitkan bahwa,
 
Ketika ‘Uthman hendak membuat salinan (naskah) resmi, dia meminta ‘A'ishah agar mengirimkan kepadanya kertas kulit (Suhuf) yang dibacakan oleh Nabi Muhammad %%%. yang disimpan di rumahnya. Kemudian dia menyuruh Zaid bin Thabit membetulkan sebagaimana mestinya, pada waktu itu beliau merasa sibuk dan ingin mencurahkan waktunya mengurus masyarakat dan membuat ketentuan hukum sesama mereka.25
 
Begitu juga [bn Ushta (w. 360 H./ 971 M.) melaporkan di dalam al­ Masahif, dalam penyelesaian masalah pembuatan naskah AI-Qur an tersendiri dengan menggunakan sumber utama, ‘Uthman mengutus seseorang ke rumah ‘A'ishah agar mengambil Suhuf Dalam usaha ini beberapa kesalahan telah terjadi dalam Mushaf yang kemudian ditashih sebagaimana mestinya.26
 
Dan riwayat-riwayat ini kita tahu bahwa 'Uthman menyiapkan salinan Mushaf independent berdasarkan secara keseluruhannya pada sumber-sumber primer termasuk tulisan-tulisan sahabat ditambah dengan Suhuf dari 'A'ishah.27

iv. 'Uthman Mengambil Suhuf dari Hafsa Guna Melakukan Verifikasi
 
Ibn Shabba melaporkan,
 




Zaid bin Thabit berkata, "Ketika saya melakukan revisi Mushaf 'Uthmani (Mushaf yang dibuat sendiri) saya temukan kekurangan satu ayat () kemudian saya mencarinya di kalangan kaum Muhajirin dan Ansar (Karena mereka itu yang menulis AI-Qur'an pada zaman Nabi Muhammad saw.), sehingga saya mendapatkannya dari Khuzaimah bin Thabit al-Ansari. Kemudian saya menuliskannya... Lalu saya merevisinya sekali lagi dan tidak menemukan sesuatu (yang meragukan). `Uthman kemudian mengutus menemui Hafsah minta agar meminjamkan Suhuf yang dipercayakan pada dirinya; Hafsah lalu memberikan setelah `Uthman berjanji pasti atau bernazar hendak mengembalikan. Dalam perbandingan kedua ayat ini, saya tidak melihat adanya perbedaan. Kemudian saya kembalikan pada 'Uthman dan penuh kegembiraan, dia menyuruh orang-orang membuat duplikat naskah dari Mushaf itu."

Jadi pada waktu itu naskah yang dibuat sendiri (independen) telah dibandingkan dengan Suhuf resmi yang sejak semula ada pada Hafsah.
 
Seseorang bisa jadi keheran-heranan mengapa khalifah 'Uthman bersusah payah mengumpulkan naskah tersendiri (otonom) sedang akhimya juga dibandingkan dengan Suhuf juga. Alasannya yang paling mendekati kemungkinan barangkali sekadar upaya simbolik. Satu dasawarsa sebelumnya ribuan sahabat, yang sibuk berperang melawan orang-orang murtad di Yamamah dan di tempat lainnya, tidak bisa berpartisipasi dalam kompilasi Suhuf Untuk menarik lebih banyak kompilasi bahan-bahan tulisan, naskah 'Uthman tersendiri (independen) memberi kesempatan kepada sahabat yang masih hidup untuk melakukan usaha yang penting ini.
 
Dalam keterangan di atas, tidak terdapat inkonsistensi di antara Suhuf dan Mushaf tersendiri (independen), dan dari dua kesimpulan yang luas ini terdapat: pertama, sejak awal teks AI-Qur'an sudah benar-benar kukuh dan tidak cair (sebagaimana sementara menuduh) dan rapuh sehingga abad ketiga; dan kedua, Metodologi yang dipakai dalam kompilasi AI-Qur'an pada zaman kedua pemerintahan sangat tepat dan akurat.


 
1. AI-Bukhari, Sahih, hadith no. 4987; Abu 'Ubaid, FadA'il, hlm. 282. terdapat banyak lagi laporan tentang masalah ini.
2. Salah satu suku mayoritas di daratan Arabia pada zaman itu.
3. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 9, Kutipan Abu Dawud
4. lbid, ix: 27
5. Lihat Abi Dawud, al -Masahif, hlm. 22. Dalam kejadian ini banyak perbedaan pendapar telah diberikan dalam menentukan tahun yang sebenar dari tahun 25-30 Hijrah. Saya mengadopsi pendirian Ibn Hajar. Lihat as Suyuti, al-Itqan, I : 170.
6. Ibn Abi Dawud, al-Magahif, hlm. 22. Lihat juga Ibn Hajar, Farhul Bari, x: 402.
7. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: ii, hadith no. 4987; Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19-20; Abu 'Ubaid, Fada'il, hlm. 282
8. Ibn Sa'd, Tabaqat, iii/2:62. perlu dicatat bahwa Ibn Sirin menggunakan kata (mengumpulkan).
9. AI-Mu'arrij as-Sadusi, Kitab Hadhfin min Nasb Quraish, hlm. 35.
10. Ibid,hlm 42.
11. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 20, 25-26.
12. lbn Hajar, Fathur Bari, ix 19.
13. AI-Baqillani, al-Intisar (ringkasan), hlm. 358.
14. Penjelasan yang cukup detail tentang salah satu Mushaf pribadi (lihat hlm. 100-2) yang mengemukakan bahwa kedua belas orang tersebut terbagi kepada Iebih dari satu kelompok, yang setiap dari mereka membaca (mendiktekan) dan bekerja secara independen.
15. Ibn Manzur, Mukhtasr Tarikh Dimashq, xvi: 17l-2; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 23-24.
16. A. Jeffery (Penyunting), Muqaddimatan, hlm. 22. Tanda (seperti nama penulis) mungkin bisa disimpulkan dari pernyataan Malik di kutipan selanjutnya.
17. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 21-22
18. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19, 25.
19. Qur'an 2:259.
20. Qur'an 30:30
21. Qur'an 86:17
22. Abu ' Ubaid, Fada'il, hlm. 286-7.
23. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 990-991; lihat juga as-Suyuti, al-Itqan, ii:272, Mengutip buku Ibn Ushta, al-Masahif.
24. Salah satu perawi di riwayat ini sangat rendah reputasinya ( %%% : matruk).
25. Hat Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 997
26. As-Suyuti, al-Itqan, ii: 272
27. Ini boleh disimpulkan dalam hadith berikut ini yang diriwayatkan oleh al-Bukhari,



- Zaid bin Thabit melaporkan bahwa ketika dia mengumpulkan AI-Qur'an pada zaman pemerintahan Abu Bakr, dia tidak dapat mendapatkan dua ayat terakhir surah al-Bara'ah sehingga dia bertemu dengan Abu Khuzaimah al-Ansari, dengan tiada seorang pun yang memiliki salinan utama (tangan pertama). Suhuf yang sudah Iengkap disimpan di bawah penjagaan Abu Bakr sampai dia meninggal ... (al-Bukhari, sahih, hadith no. 4986)



- Kharijah bin Zaid bin Thabit meriwayatkan dari bapaknya Zaid bin Thabit, " ketika kami menulis Mushaf, saya tidak menemukan satu ayat (no. 23 dari surah al-Ahzab) yang selalu saya dengar dari bacaan Rusulullah saw. Kami mencarinya sehingga kami dapatkan dari Khuzaimah bin Thabit al-.Ansari, lalu kami masukkan ke dalam surah yang tepat dalam Mushaf." (al-Bukhari. Sahih, Hadith no. 4988).

Kedua hadith ini menyebabkan kekeliruan di kalangan ilmuwan, disebabkan kemungkinan besar ada dua nama. Perlu dicatat bahwa dua nama ini berbeda: Khuzaimah dan Abu Khuz.aimah. Sekarang jika kita baca hadith-hadith ini dengan teliti, kita akan melihat bahwa Zaid menggunakan kata Suhuf untuk kompilasi AI-Qur'an pada zaman pemerintahan Abu Bakr, dan kala Mushaf atau Masahif (kata majemuk untuk Mushaf) digunakan di bawah bimbingun `Uthman. Oleh karena itu, kila mungkin bisa menyimpulkan bahwa kedua ini conloh koleksi yang berbeda. (Perlu dicatat hadith nomor 4986 menerangkan bagian kompilasi AI-Qur'an di masa Abu Bakr dan nomor 4989 menerangkan pada zaman 'Uthman.). Jika kita pertimbangkan kompilasi kedua adalah tugas Zaid dalam mempersiapkan Mushaf independent, maka semuanya jadi jelas. Di satu segi, kalau kita asumsikan bahwa Zaid hanya membuat duplikat salinan untuk ' Uthman dari suhuf Abu Bakr, bukan salinan sendiri, maka kita harus berhadapan dengan pertanyaan kenapa Zaid tidak bisa menemukun ayat no. 23 dari surah al-Ahzab- sedangkan semua ayat seharusnya sudah ada di hadapannya. Yang menarik juga bahwa Zaid menggunakan kata ganti single orang pertama (saya) dalam riwayat pertama dan menggunakan kata ganti banyak orang pertama (kami) pada riwayat kedua, yang menunjukkan perbuatan kelompok di dalam riwayat kedua. Semua ini menguatkan pandangan yang berpendapat bahwa kompilasi kedua sesungguhnya menunjukkan usaha yang lain (independen).
28. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 1001-2.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda