Rabu, 11 Desember 2013

RPP Kurikulum 2013 T3-ST2-P6



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan     :  SDN
Kelas / Semester          :  4 /1
Tema                            :  Peduli Terhadap Makhluk Hidup (Tema 3)
Sub Tema                    :  Keberagaman Makhluk Hidup di lingkunganku
Pembelajaran ke         :  6
Alokasi waktu             : 1 x 35 Menit (1JP)

A.    KOMPETENSI INTI
1.      Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2.      Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru.
3.      Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah.
4.      Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B.     KOMPETENSI DASAR
Matematika
3.13     Memahami pecahan senilai dan operasi hitung pecahan menggunakan benda konkret/gambar
4.13     Mengurai sebuah pecahan menjadi hasil penjumlahan atau pengurangan dua buah pecahan lainnya dengan berbagai kemungkinan jawaban

C.    INDIKATOR
Menentukan jawaban dari soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut sama
·         Menentukan jawaban dari soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut berbeda
·         Membuat soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan yang merupakan bagian dari kelompok dan menjawabnya dengan benar

D.    TUJUAN
 Setelah mengamati gambar, siswa mampu menyelesaikan masalah tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda dengan benar.
·         Setelah mengamati gambar, siswa mampu membuat soal cerita tentang penjumlahan atau pengurangan pecahan yang merupakan bagian dari kelompok dan menjawabnya dengan benar.

E.     MATERI
Soal cerita penjumlahan dan pengurangan pecahan.

F.     PENDEKATAN & METODE

      Pendekatan           : Scientific
Strategi                 : Cooperative Learning
Teknik                  : Example Non Example
Metode                 : Penugasan, Tanya Jawab, Diskusi dan Ceramah



G.    KEGIATAN  PEMBELAJARAN
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi
Waktu
Kegiatan
Pendahuluan
Hafalan Matrik Perkalian 1-9.
Mengajak semua siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing, dilanjutkan dengan Pembacaan Teks Pancasila.
Melakukan komunikasi  tentang kehadiran siswa. Guru menyiapkan fisik dan psikhis siswa dalam mengawali kegiatan pembelajaran, yaitu mengajak siswa menyanyikan lagu/yel-yel/tepuk dinamika dengan materi yang relevan dengan pembelajaran hari ini.  Menginformasikan Tema/Sub Tema yang akan dibelajarkan. Menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini.
Selain melihat alat peraga lainnya, siswa dapat menonton video yang terkait pembelajaran hari ini, mendatangkan narasumber, membaca buku dari perpustakaan sekolah, perpustakaan online/e-book.
    5
    menit
Kegiatan
Inti
Siswa mengenal soal tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan yang terkait dengan pecahan yang merupakan bagian dari kelompok. Siswa mengerjakan soal cerita dengan mandiri.
·      Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam buku siswa.
·      Siswa membuat soal cerita penjumlahan dan pengurangan pecahan.
·      Siswa menjawab soal-soal tentang pembelajaran minggu ini.
    25
    menit

Kegiatan
Penutup
Siswa menuliskan perenungan mereka di buku siswa.
Guru menyampaikan pesan moral untuk memanfaatkan Keberagaman Makhluk Hidup di lingkunganku dengan bijak.
Tugas: Siswa bercerita kepada orang tua tentang pengalaman belajarnya minggu ini. Siswa juga diminta mendiskusikan hal-hal yang dapat ia lakukan agar apa yang dipelajari dapat bermanfaat untuk dirinya dan lingkungan.
Hafalan Matrik Perkalian 1-9. Salam dan do’a penutup.

Remedial
·      Siswa yang belum dapat menjawab pertanyaan dalam bagian evaluasi akan mengerjakan lagi soal yang sama. Di awal, guru membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal tersebut, kemudian minta mereka mengerjakan dengan mandiri.

    5
    menit

H.    SUMBER DAN  MEDIA
·         Diri anak, Lingkungan keluarga, dan Lingkungan sekolah.
·         Buku Pedoman Guru Tema 3 Kelas 4 dan Buku Siswa Tema 3 Kelas 4.
·         Buku Pengembangan Diri Anak.
·         Sumber Motivasi/Inspirasi Hidup: http://rokhmaninstitute.blogspot.com/
 Video/slide/buklet/pamflet/gambar tentang Keberagaman Makhluk Hidup di lingkunganku Daun kering atau bahan lain dari alam dan bulu ayam/burung/bebek.



I.       PENILAIAN
  1. Prosedur Penilaian
a.      Penilain Proses
Menggunakan format pengamatan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran sejak dari kegiatan awal sampai dengan kegiatan akhir.
b.      Penilaian Hasil Belajar
Menggunakan instrumen penilaian hasil belajar dengan tes tulis dan lisan (terlampir).

  1. Instrumen Penilaian
a.      Penilaian Proses
1)   Penilaian Kinerja.
2)   Penilaian Produk.
b.      Penilaian Hasil Belajar
·       Pilihan ganda.
·       Isian singkat.
·       Esai atau uraian.

Mengetahui
Kepala Sekolah,



………………………………
NIP. …………………………
Medan, Desember 2013
Guru/Wali Kelas 4,



…………………..
NIP…………………..


MATERI AJAR

Satuan Pendidikan     :  SDN
Kelas / Semester          :  4 /1
Tema                            :  Peduli Terhadap Makhluk Hidup (Tema 3)
Sub Tema                    :  Keberagaman Makhluk Hidup di lingkunganku
Pembelajaran ke         :  6
Alokasi waktu             : 20 Menit

A.    KOMPETENSI INTI
  1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
  2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru.
  3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah.
  4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.

B.     KOMPETENSI DASAR
Matematika
3.13     Memahami pecahan senilai dan operasi hitung pecahan menggunakan benda konkret/gambar
4.13     Mengurai sebuah pecahan menjadi hasil penjumlahan atau pengurangan dua buah pecahan lainnya dengan berbagai kemungkinan jawaban



C.    INDIKATOR
Menentukan jawaban dari soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut sama
·         Menentukan jawaban dari soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut berbeda
·         Membuat soal cerita tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan yang merupakan bagian dari kelompok dan menjawabnya dengan benar

D.    TUJUAN
 Setelah mengamati gambar, siswa mampu menyelesaikan masalah tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda dengan benar.
·         Setelah mengamati gambar, siswa mampu membuat soal cerita tentang penjumlahan atau pengurangan pecahan yang merupakan bagian dari kelompok dan menjawabnya dengan benar.

E.     MATERI
Bilangan Pecahan.
Pecahan sebetulnya merupakan bagian dari bilangan rasional yang dapat ditulis dalam bentuk a/b dengan a dan b merupakan bilangan bulat dan b tidak sama dengan nol. Secara simbolik pecahan dapat dinyatakan sebagai salah satu bentuk dari:
(1) pecahan biasa,
(2) pecahan desimal,
(3) persen, dan
(4) pecahan campuran.

Pecahan dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan senilai sebagai : 1/2 = 2/4 = 3/6 = 4/8.

Pecahan biasa adalah lambang bilangan yang dipergunakan untuk melambangkan bilangan pecah dan rasio (perbandingan). Menurut Kennedy (1994:425–427) makna dari pecahan dapat muncul dari situasi-situasi sebagai berikut.

a. Pecahan menyatakan bagian yang berukuran sama dari satu utuh.
Pecahan biasa dapat digunakan untuk menyatakan bagian dari keseluruhan (1 utuh). Beberapa contoh kehidupan sehari-hari yang menggambarkan tentang pecahan, misal:

Apabila ibu mempunyai sebuah apel yang akan diberikan kepada 4 orang anaknya, dan masing-masing harus mendapat bagian sama, maka apel tersebut harus dipotong-potong menjadi 4 bagian yang sama. Sehingga masing-masing anak akan memperoleh 1/4 bagian dari apel tersebut. Pecahan biasa 1/4 mewakili ukuran dari tiap-tiap potongan apel. Dalam lambang bilangan 1/4, ”4” menunjukkan banyaknya bagian-bagian yang sama dari suatu benda utuh dan disebut ”penyebut”. Sedangkan ”1” menunjukkan banyaknya bagian yang menjadi perhatian atau digunakan atau diambil pada saat tertentu dan disebut pembilang.
b. Pecahan menyatakan bagian dari kelompok-kelompok yang beranggotakan sama banyak, atau juga menyatakan pembagian.
Apabila sekumpulan apel dikelompokkan menjadi 2 bagian yang beranggotakan sama banyak, maka situasinya jelas dihubungkan dengan pembagian. Situasi di mana sekumpulan apel yang banyaknya 12, dibagi menjadi 2 kelompok yang beranggotakan sama banyak, maka kalimat matematikanya dapat 12 : 2 = 6 atau 1/2  x 12 = 6.
Sehingga untuk mendapatkan 1/2 dari 12 apel, maka kita harus memikirkan 12 apel yang dikelompokkan menjadi 2 bagian yang beranggotakan sama. Banyaknya anggota masingmasing kelompok, terkait dengan banyaknya apel semula, dalam hal ini 1/2 dari
banyaknya apel semula yaitu 1/2 dari 12.
Hal lain juga dapat terjadi pada pembagian bilangan yang menghasilan pecahan campuran sebagai berikut ini. 
Di dalam kardus terdapat 5 roti mini sisa arisan. Ibu menyuruh 2 anaknya untuk makan roti tersebut. Berapa bagian diperoleh setiap anak?]’


c. Pecahan sebagai perbandingan (rasio)
Hubungan antara sepasang bilangan sering dinyatakan sebagai sebuah perbandingan. Berikut diberikan contoh situasi yang biasa memunculkan perbandingan.
Soal cerita penjumlahan dan pengurangan pecahan.
 






















LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

















Rabu, 04 Desember 2013

HIDUP APA ADANYA

HIDUP APA ADANYA

Nafsu manusia kadang seperti air. Tak pernah henti untuk selalu mengalir. Selama masih ada celah, di situlah air mengalir. Bedanya dengan air yang mengalir ke tempat lebih rendah, nafsu terus mengalir ke arah sebaliknya.
Manusia bisa dibilang makhluk yang jarang cepat puas. Selalu saja ujung dari sebuah pencarian lagi-lagi bertemu pada satu titik: kurang. Keadaan itu persis seperti orang yang selalu mendongak ke atas. Dan lengah menatap ke bawah.
Itulah kenapa orang tanpa sadar kehilangan daya peka. Kepekaannya dengan lingkungan sekitar menjadi tumpul. Bahkan mungkin, di tengah hiruk pikuknya mengejar yang atas, tanpa terasa kalau yang di bawah terinjak-injak. Jadi, pisau kepekaan bukan sekadar tumpul, bahkan berkarat sama sekali.
Orang menjadi tidak mampu menyelami apa yang terjadi di sekelilingnya. Sulit merasakan kalau di saat kita terlelap dalam keadaan kenyang, sejumlah tetangga terus terjaga karena menahan perut yang lapar. Sulit menangkap keinginan anak-anak tetangga untuk tetap bersekolah, ketika sebagian kita tengah sibuk mencari sekolah top buat anak-anak, berapa pun mahalnya.
Ketidakpekaan itu akhirnya menggiring diri untuk tampil tak peduli. Kesederhanaan menjadi barang langka. Ada semangat tampil serba wah. Ada bahasa yang sedang diungkapkan, “Saya memang beda dengan kalian!”
Ketika terjadi proses melengkapi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan mungkin hal-hal lain seperti alat komunikasi; ada pergeseran yang nyaris tanpa terasa. Sebuah pergerseran dari nilai fungsi kepada nilai gengsi.
Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok itu tidak lagi menimbang sekadar fungsi, tapi lebih kepada gengsi. Ada sesuatu yang sedang dikejar dari proses pemenuhan itu: trend dan gengsi. Biasanya, nilai gengsi jauh lebih mahal dari nilai fungsi. Bahkan, bisa berkali-kali lipat.
Di sisi lain, ada semacam ketergantungan dengan penampilan mode yang tentu saja datang dari negeri pedagang budaya. Mereka begitu pintar mengemas barang dagangan dalam bentuk yang sangat menarik. Halus, tanpa kesan menggurui. Kemasan bisa melalui film, berita mode dan sebagainya. Tanpa sadar, orang sedang terhipnotis dalam cengkeraman para pedagang budaya. Repotnya, ketika pedagang budaya sebagian besar menuhankan hidup materialistis. Semua tanpa sadar menuhankan gengsi.
Mungkinkah perilaku konsumsi seperti itu hinggap dalam diri umat Islam? Masalahnya memang bukan sekadar muslim atau bukan. Tapi sejauhmana umat Islam memahami nilai budaya Islam. Dan membumikannya dalam kenyataan hidup sehari-hari.
Mereka yang tidak paham dengan Islam biasanya memang tidak peduli dengan urusan orang lain. Walaupun itu satu keyakinan. Tidak ada ajaran yang menyentuh hati mereka untuk mau memperhatikan nasib saudaranya. Hidup bagi mereka adalah diri mereka sendiri. Tidak ada hubungannya dengan orang lain.
Sementara Islam, sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Bahkan nilainya bisa sama dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak beriman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)
Selain tumpulnya kepekaan dan kungkungan trend budaya orang lain, ada sebab lain yang membuat orang jauh dari sederhana. Itulah imperiority, atau merasa rendah di hadapan orang lain. Rasa rendah diri itu memompa segala daya yang dimiliki untuk tampil melebihi orang yang dianggap lebih. Paling tidak, ada kepuasan diri jika tampilan bisa dianggap lebih.
Penyakit seperti itu biasa hinggap di negeri-negeri jajahan. Mereka biasa hidup susah. Sementara para penjajah hidup mewah. Ketika kesempatan hidup mewah terbuka lebar, sifat rendah diri berubah menjadi jiwa eksploitasi. Apa pun yang bisa diraih, diambil sebanyak-banyaknya demi kepuasan tampil lebih.
Hal itulah yang diwaspadai Khalifah Umar bin Khaththab ketika mencermati para gubernurnya. Ia khawatir, di saat kesempatan terbuka lebar, para gubernur hilang kesadaran. Umar pernah menghukum Amru bin Ash, sang gubernur Mesir kala itu yang berbuat semena-mena terhadap seorang rakyatnya yang miskin.
Seorang gubernur yang bertugas di Hamash, Abdullah bin Qathin pernah dilucuti pakaiannya oleh Umar. Sang khalifah menyuruh menggantinya dengan baju gembala. Bukan itu saja, si gubernur diminta menjadi penggembala domba sebenarnya untuk beberapa saat. Hal itu dilakukan Umar karena sang gubernur membangun rumah mewah buat dirinya. “Aku tidak pernah menyuruhmu membangun rumah mewah!” ucap Umar begitu tegas.
Teladan lain pernah diperlihatkan sahabat Rasul yang bernama Mush’ab bin Umair. Pemuda kaya ini tiba-tiba berubah drastis ketika memeluk Islam. Ia yang dulu selalu tampil trendi, serba mewah, menjadi pemuda sederhana yang hampir seratus persen berbeda dengan sebelumnya. Bahkan Mush’ab rela meninggalkan segala kekayaannya demi menunaikan dakwah di Madinah.
Ada yang menarik dari seorang mantan duta besar Jerman untuk Al-Jazair. Beliau bernama Wilfred Hoffman. Setiapkali mengunjungi pesta kalangan diplomat atau pejabat negara, isterinya selalu menjadi pusat perhatian.
Pasalnya, di acara-acara bergengsi seperti itu, isterinya tidak pernah mengenakan busana dan perhiasan mewah. Sebuah kenyataan di luar kelaziman buat kalangan petinggi negara seperti Jerman. Bagaimana mungkin seorang duta besar negara kaya bisa tampil ala kadarnya. Padahal, para pejabat dari negara miskin saja bisa tampil gemerlap. Ada apa?
Ternyata, Hoffman dan isterinya memang sengaja seperti itu. Ia lebih memilih hidup sederhana, ketimbang tampil mewah. Justru, dengan tampilan seperti itulah, Hoffman dan isterinya lebih dianggap daripada dubes dan pejabat lain yang hadir.
Meraih segala kemampuan materi memang sulit. Tapi lebih sulit lagi mengendalikannya menjadi tampilan sederhana. Karena nafsu memang tidak pernah berhenti mengalir ke segala arah.

Minggu, 01 Desember 2013

Pemimpin Begitu, Rakyat Begitu…

Pemimpin Begitu, Rakyat Begitu…

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Kalau kita menelaah masalah bangsa Indonesia, intinya ada pada 3 masalah, yaitu: Pemimpin, Kultur Politik, dan Mental Rakyat. Ketiga hal ini saling kait-mengait, sebagian mempengaruhi sebagian yang lain. Kondisi yang selama ini digambarkan sebagai “lingkaran setan” ada dalam 3 aspek tersebut.
Posisi seorang pemimpin (seperti SBY saat ini) amat sangat penting. Bukan omong kosong ya, pemimpin benar-benar seperti nahkoda dalam pelayaran. Kalau belum paham, coba pahami dulu posisi nahkoda sebuah kapal. Banyaknya korupsi, kebobrokan birokrasi, mafia hukum, dekadensi moral, kemiskinan, pengangguran, konflik sosial, frustasi massa, kegagalan pendidikan, kerusakan lingkungan, bencana alam, ambruknya lembaga keluarga, dll. semua itu TERKONEKSI langsung ke sosok pemimpin (seperti SBY).

Maka itu, mengharapkan tokoh pemimpin itu akan masuk syurga, rasanya seperti mimpi. (Kecuali, kalau Allah menghendakinya masuk syurga). Mengapa? Sebab dosa-dosa yang kelak akan ditanggung sang pemimpin sebagai akibat dari kehancuran kehidupan yang melanda rakyat Indonesia amat sangat besar. (Di akhirat nanti, semua orang yang menderita di bawah kepemimpinan SBY misalnya, akan dipertanggung-jawabkan oleh SBY di hadapan Allah Al Hasib).
Andaikan pemimpin sudah baik, belum tentu kehidupan akan serta merta bisa menjadi baik. Mengapa? Karena kultur politik bangsa Indonesia sudah dikuasai oleh kaum mafia. Mereka adalah Mafia PBB (mafia politik, mafia bisnis, mafia birokrasi). Mafia PBB ini akan berusaha mempertahankan kondisi negara yang carut-marut ini dengan sekuat tenaga (dengan uang, senjata, media, lobi-lobi, sampai pertumpahan darah). Mereka merasa tentram dengan kondisi serba carut-marut itu, sebab disana mereka bisa menikmati kehidupan enak, nyaman, bermandi uang, bermandi kekuasaan, kepuasan, serta arogansi tinggi. Mereka tidak mau kondisi carut-marut itu akan diubah menjadi kondisi Indonesia yang sehat, adil, teratur, sejahtera, kemakmuran merata, dan bermartabat.
Banyak sekali kasus-kasus korupsi melibatkan elit-elit politik, tokoh nasional, pejabat birokrasi, pejabat partai politik, pengusaha, konglomerat, perusahaan asing, dll. Semua itu tak bisa diusut, karena di-back up oleh Mafia PBB tersebut. Dalam kondisi demikian, adanya pemimpin yang shalih satu atau dua, belum bisa mengubah keadaan. Apalagi kalau pemimpin itu bernyali lebay. Harus ada gebrakan berulang-ulang dari pemimpin yang shalih untuk meruntuhkan sistem Mafia PBB itu; sekalipun resikonya sang pemimpin harus terbunuh di tangan mafia. Selagi belum ada pemimpin bertipe mujahid, siap mati demi kemaslahatan besar, jangan berharap ada perbaikan.
Andaikan pemimpin shalih sudah ada, sistem Mafia PBB bisa diruntuhkan, masih ada satu hambatan lagi, yaitu MENTAL masyarakat Indonesia. Nah, ini juga bukan masalah kecil. Secara umum, yang membuat pemimpin bertipe lebay, dan struktur Mafia PBB sangat kuat mengakar; hal itu tidak lepas dari karakter masyarakat kita juga. Karakter yang bagaimana?
Antara lain: Malas belajar, lebih suka senang-senang. Tidak mau susah, lebih suka cara-cara instan, meskipun curang. Gampang ikut-ikutan orang lain, sekalipun ajakan untuk korupsi dan manipulasi. Senang berpikir konsumtif, bukan kreatif. Silau dengan budaya Barat, tidak percaya dengan diri sendiri. Bersikap materialis, enggan membangun kesehatan spiritual. Banyak basa-basi, sekalipun terhadap praktik kezhaliman-kezhaliman yang nyata. Mudah lupa catatan sejarah, meskipun baru berlalu 2-3 tahun lalu. Sangat sulit melepaskan diri dari budaya-budaya kemusyrikan. Dalam beragama, lebih suka ikut-ikutan tokoh daripada memahami. Dan lain-lain karakter yang sangat menguntungkan bagi para pemimpin penjahat dan sistem mafia, untuk membelenggu hidup mereka.
Nah, inilah masalah-masalah kita selama ini. Pemimpin lemah, kultur mafia mendominasi, rakyat tak berdaya. Adanya ribuan masalah yang membelenggu bangsa ini tak bisa dilepaskan dari 3 persoalan tersebut.
Sebagai contoh, baru-baru ini SBY berkomentar soal PSSI. Setelah Timnas PSSI kalah 0-10 melawan Bahrain, SBY meminta PSSI introspeksi. Gayung bersambut, Djohar Arifin, langsung bersedia introspeksi. Tetapi masalah utamanya, justru SBY yang harus paling duluan introspeksi. Semua masalah yang ada, termasuk kekalahan PSSI 0-10 lawan Bahrain, itu semuanya bermuara kepada kepemimpinan SBY sendiri. Semua masalah di negeri ini, dari soal bocah kecil menangis karena kakinya digigit semut, sampai soal gonjang-ganjing harga minyak dunia; semua itu kembali ke pundak SBY selaku pemimpin.
Tapi kan masalahnya, seorang pemimpin berkomentar “hendaknya PSSI introspeksi”…ucapan begini ini hanya untuk “mengisi waktu luang” saja. Daripada tidak ada pekerjaan sama sekali. Ya, masak untuk anggaran pribadi presiden yang setiap bulan ditetapkan sangat tinggi; masak hanya untuk bercuap-cuap ini itu saja, tidak bisa. Ironis kan. Maka itu, daripada tak ada kerjaan, ya sudahlah keluar “PSSI harus introspeksi ya”. Padahal yang bersangkutan harusnya lebih dulu introspeksi.
Inilah zaman dimana kehidupan kita diliputi oleh berbagai fitnah yang menyulitkan. Fitnah tersebar dimana-mana, bentuknya beraneka rupa. Kehidupan kita diliputi kesulitan akibat pemimpin durhaka, sistemnya menindas, sementara rakyat tak berdaya untuk mengadakan perbaikan. Inilah masa dimana Sistem Islami tidak tegak sehingga tak mampu melindungi hajat kehidupan kaum Muslimin. Seperti kehidupan Nabi dan para Sahabat saat di Makkah. Di bawah sistem non Islami mereka hidup benar-benar mengalami ujian sangat berat. Ya, seperti itu kondisi kaum Muslimin di negeri kita selama ini. Kita hidup di bawah “sistem haram”, sementara dalam kehidupan sehari-hari kita diwajibkan menjalani hidup “selalu halal”.
Maka sebaik-baik doa adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Doa ini biasanya dibaca setiap akhir bacaan Tasyahud, sebelum salam. Bunyi doanya sebagai berikut: “Allahumma inniy a’udzubika min adzabi jahannam, wa a’udzubika min adzabil qabri, wa a’udzubika min fitnatil mahya wal mamati, wa a’udzubika min syarri fitnatil masihid dajjal” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab jahannam, aku berlindung kepada-Mu dari adzab qubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan fitnah dajjal).
Boleh juga ditambahkan doa berikut: “Allahummaghfirlana warhamna wahdina wa ‘afina warzuqna” (Ya Allah, ampunilah kami, sayangilah kami, berikan petunjuk kepada kami, beri keselamatan kami, dan berikan rizki kepada kami).
Semoga ada manfaatnya, sebagai renungan dan saling nasehat-menasehati antar sesama Muslim. Mohon maaf atas segala salah dan kekurangan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda